International News Network
Selasa, 12 Mei 2026
War

Konflik Kian Panas, Iran Disebut Menyerang Armada AS di Selat Hormuz

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap kapal militer AS di sekitar Selat Hormuz. Iran menuduh Washington lebih dulu melanggar gencatan senjata melalui serangan terhadap wilayah dan kapal sipil Iran.

Jakarta, 09 Mei 2026 02:21 WIB • Amerika Serikat • 6 views
Konflik Kian Panas, Iran Disebut Menyerang Armada AS di Selat Hormuz
Teheran – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran serangan besar terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz pada Jumat (8/5/2026). Serangan tersebut disebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Washington terhadap sejumlah target Iran.

Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut operasi militer dilakukan setelah pasukan Amerika Serikat dituduh menyerang kapal tanker minyak Iran serta beberapa area sipil di wilayah selatan negara tersebut. Iran menilai tindakan Washington telah melampaui batas kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya sempat diumumkan kedua pihak.

Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan kapal tanker Iran yang berada di dekat pelabuhan Jask menjadi salah satu sasaran serangan AS saat bergerak menuju Selat Hormuz. Selain itu, beberapa kapal Iran di sekitar pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, juga diklaim ikut diserang.

Iran juga menuduh Amerika Serikat melakukan serangan terhadap kawasan sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm. Teheran menyebut operasi tersebut melibatkan dukungan dari sejumlah negara di kawasan, meski tidak merinci pihak yang dimaksud.

Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, dan drone tempur yang menargetkan armada militer AS di sekitar Selat Hormuz dan perairan dekat pelabuhan Chabahar. IRGC mengklaim serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan terhadap sejumlah kapal perang Amerika Serikat.

Media pemerintah Iran melaporkan beberapa kapal militer AS terlihat bergerak mundur menuju Laut Oman setelah serangan berlangsung. Stasiun televisi nasional IRIB juga menyebut unit militer AS mengalami kerusakan dan terpaksa meninggalkan area konflik.

Di saat yang hampir bersamaan, kantor berita IRNA melaporkan suara ledakan dan aktivitas pertahanan udara terdengar di sejumlah wilayah Teheran bagian barat. Sistem anti-pesawat disebut aktif selama beberapa menit setelah dua ledakan besar mengguncang kawasan tersebut.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan berbeda terkait insiden di Selat Hormuz. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa kapal perang Amerika Serikat lebih dulu diserang oleh Iran ketika melintas di kawasan tersebut.

Trump menyebut tiga kapal perusak milik AS berhasil melewati Selat Hormuz tanpa mengalami kerusakan serius. Ia juga mengeklaim pasukan AS telah menghancurkan sejumlah kapal Iran dalam serangan balasan yang dilakukan setelah insiden terjadi.

Pernyataan yang saling bertolak belakang dari kedua negara semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hingga kini belum ada konfirmasi independen terkait tingkat kerusakan maupun jumlah korban dari kedua pihak.

Pengamat internasional menilai situasi di Selat Hormuz berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas apabila tidak segera diselesaikan melalui jalur diplomasi. Kawasan tersebut diketahui merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.