Jakarta – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan langsung dengan pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei. Pertemuan tersebut disebut berlangsung selama sekitar dua setengah jam dan menjadi momen penting di tengah berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatan Mojtaba pasca konflik bersenjata yang terjadi beberapa waktu lalu.
Dikutip dari Euronews
dan CNN
pada Kamis (7/5/2026), Pezeshkian tidak menjelaskan secara rinci kapan maupun di mana pertemuan tersebut berlangsung. Meski demikian, ia memberikan gambaran mengenai suasana pertemuan yang menurutnya berlangsung hangat dan penuh keterbukaan.
Dalam keterangannya, Pezeshkian menyebut Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Ia mengaku terkesan dengan cara Mojtaba berinteraksi selama pembicaraan berlangsung.
“Hal yang paling berkesan bagi saya dari pertemuan ini adalah sikap, pandangan, dan perilaku Mojtaba Khamenei yang sangat tulus dan rendah hati. Pendekatan itu menciptakan suasana penuh kepercayaan, ketenangan, empati, dan dialog yang terbuka,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian publik karena selama beberapa bulan terakhir Mojtaba Khamenei hampir tidak pernah muncul di hadapan masyarakat. Sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Majelis Pakar setelah wafatnya ayahnya, Ali Khamenei, keberadaan Mojtaba jarang terlihat secara langsung.
Ali Khamenei sebelumnya dilaporkan meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik besar yang pecah pada 28 Februari lalu. Peristiwa tersebut menjadi titik balik penting dalam dinamika politik dan keamanan di Iran maupun kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Penunjukan Mojtaba sebagai penerus kepemimpinan tertinggi Iran sempat memicu berbagai reaksi, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Selain karena posisinya sebagai putra Ali Khamenei, publik juga menyoroti minimnya penampilan publik Mojtaba setelah pengangkatannya.
Selama hampir dua bulan sejak penunjukan tersebut, Mojtaba tidak pernah memberikan pidato terbuka ataupun merilis rekaman video maupun audio resmi. Kondisi itu memunculkan berbagai spekulasi mengenai keadaan kesehatannya.
Sejumlah laporan sebelumnya menyebut bahwa Mojtaba mengalami cedera serius akibat serangan yang menewaskan ayahnya. Ia dikabarkan harus menjalani beberapa operasi pada bagian kaki dan lengan karena luka yang cukup berat. Selain itu, laporan lain juga menyebut adanya luka bakar serius pada area wajah dan bibir yang membuatnya mengalami kesulitan berbicara.
Spekulasi tersebut semakin berkembang setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, sempat menyatakan bahwa Mojtaba kemungkinan mengalami cedera permanen yang dapat menyebabkan kecacatan. Namun hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kondisi kesehatan pemimpin tertinggi mereka tersebut.
Karena itu, pernyataan Pezeshkian mengenai pertemuannya dengan Mojtaba dianggap sebagai sinyal bahwa pemimpin Iran tersebut masih aktif menjalankan komunikasi politik di tengah situasi yang belum stabil.
Selain membahas pertemuan dengan Mojtaba, Pezeshkian dalam pidatonya juga menyinggung berbagai persoalan domestik yang sedang dihadapi Iran. Ia menyoroti pentingnya pengelolaan energi secara lebih disiplin di tengah tekanan ekonomi dan kondisi pascakonflik yang masih berat.
Menurut Pezeshkian, masyarakat Iran perlu mulai mengurangi pemborosan, baik dalam penggunaan energi maupun pengeluaran sehari-hari. Ia menilai efisiensi dan solidaritas sosial menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas negara dalam jangka panjang.
Ia juga menekankan bahwa masa depan Iran tidak hanya bergantung pada kekuatan militer atau politik, tetapi juga pada persatuan nasional di tengah masyarakat. Dalam pidatonya, Pezeshkian mengingatkan agar warga tidak mudah saling menuduh tanpa dasar yang jelas.
“Masyarakat tidak seharusnya dengan mudah dituduh melakukan korupsi, pengkhianatan, atau spionase karena hal itu hanya menciptakan sekat-sekat palsu di tengah masyarakat,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai pesan penting di tengah meningkatnya ketegangan internal pascakonflik. Dalam beberapa bulan terakhir, Iran menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari ancaman keamanan, krisis ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpercayaan publik akibat situasi politik yang memanas.
Pengamat politik menilai bahwa pidato Pezeshkian juga mencerminkan upaya pemerintah Iran untuk meredam polarisasi di masyarakat. Seruan untuk menjaga persatuan dianggap penting mengingat kondisi negara yang masih dalam tahap pemulihan setelah konflik besar dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di sisi lain, keberadaan Mojtaba Khamenei tetap menjadi sorotan internasional. Banyak pihak menilai bahwa keterbukaan informasi mengenai kondisinya akan sangat memengaruhi stabilitas politik Iran ke depan. Apalagi, sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba memegang peran sentral dalam menentukan arah kebijakan negara, termasuk urusan keamanan dan hubungan luar negeri.
Hingga kini, pemerintah Teheran masih belum memberikan penjelasan rinci mengenai kondisi kesehatan maupun aktivitas resmi Mojtaba Khamenei. Karena itu, pernyataan Pezeshkian terkait pertemuan tersebut menjadi salah satu informasi paling signifikan yang muncul dalam beberapa pekan terakhir mengenai pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Politik
Ungkap Isi Pertemuan 2,5 Jam dengan Mojtaba Khamenei, Presiden Iran
Penunjukan Mojtaba sebagai penerus kepemimpinan tertinggi Iran sempat memicu berbagai reaksi, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Selain karena posisinya sebagai putra Ali Khamenei, publik juga menyoroti minimnya penampilan publik Mojtaba setelah pengangkatannya.