International News Network
Senin, 11 Mei 2026
Politik

Pertamax Turbo Kembali Naik, Warga Jabodetabek Kini Bayar Rp19.900 per Liter

Jakarta – Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo kembali mengalami kenaikan. Mulai hari ini, masyarakat di wilayah Jabodetabek harus merogoh kocek lebih dalam setelah harga resmi naik sebesar Rp500 per liter, dari sebelumnya menjadi Rp19.900 per liter. Kenaikan ini merupakan bagian dari penyesuaian harga BBM non-subsidi yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sebagai BBM dengan nilai oktan tinggi, Pertamax Turbo memang tidak mendapatkan subsidi pemerintah sehingga harganya lebih fleksibel.

Jakarta, 04 Mei 2026 10:37 WIB • Indonesia • 14 views
Pertamax Turbo Kembali Naik, Warga Jabodetabek Kini Bayar Rp19.900 per Liter
Sejumlah warga mengaku cukup terkejut dengan kenaikan tersebut, meskipun sebagian sudah mulai terbiasa dengan perubahan harga BBM non-subsidi yang terjadi secara berkala. “Ya mau gimana lagi, memang sudah sering naik. Tapi tetap terasa berat juga, apalagi kalau sering isi full tank,” ujar salah satu pengguna kendaraan di Jakarta.

Di sisi lain, pihak terkait menyebut bahwa penyesuaian harga ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi serta menyesuaikan kondisi pasar global. Harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo ditentukan berdasarkan formula yang mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi, termasuk harga minyak internasional dan biaya distribusi.

Pengamat energi menilai, tren kenaikan harga BBM ini kemungkinan masih akan berlanjut apabila harga minyak dunia terus mengalami tekanan. Selain itu, nilai tukar rupiah yang belum stabil juga menjadi faktor penting dalam penentuan harga.

Meski demikian, pemerintah tetap memastikan ketersediaan BBM bersubsidi bagi masyarakat yang membutuhkan, seperti Pertalite dan Solar, agar tidak terlalu terdampak oleh kenaikan harga BBM non-subsidi.

Dengan harga yang kini mendekati angka Rp20 ribu per liter, pengguna Pertamax Turbo diharapkan mulai mempertimbangkan efisiensi penggunaan bahan bakar, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih beradaptasi dengan berbagai tekanan global.