Industri film horor Indonesia kembali menunjukkan potensinya di pasar internasional. Produser Indonesia-Australia, Intan Kieflie, siap memperkenalkan deretan proyek film bergenre horor dalam ajang Cannes Film Market melalui dua rumah produksinya, Kraken Entertainment dan Anak Negeri Films.
Dalam presentasinya di Cannes, Intan membawa tiga proyek utama yang menjadi fokus promosi internasional. Ketiga proyek tersebut adalah film horor supranatural “Sukma” karya sutradara sekaligus aktor Baim Wong, film “Ritual Gaib: Nyai Randasura” yang siap dirilis, serta proyek terbaru bertajuk “Ibu: Mother of the Lost”.
Film “Ibu” menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena menggabungkan unsur horor psikologis dan drama emosional keluarga. Film ini akan dikembangkan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris, untuk menjangkau pasar global lebih luas.
Cerita “Ibu” berfokus pada sosok Dewi, seorang ibu yang sedang berduka dan memilih mengasingkan diri ke sebuah rumah tua di tepi danau yang ingin ia ubah menjadi panti asuhan. Namun, situasi berubah menjadi misterius ketika ia menemukan dua anak yang telah meninggal dunia seolah masih tinggal di tempat tersebut dan memanggilnya dengan sebutan “Ibu”.
Selain Christine Hakim dan Yayan Ruhian, film ini juga melibatkan aktor internasional Alexander Wraith serta Intan Kieflie sendiri. Proyek tersebut dibawa ke Cannes untuk mencari kerja sama produksi, investor, mitra strategis, hingga peluang penjualan internasional sebelum proses produksi dimulai.
Menurut Intan Kieflie, tujuan kehadirannya di Cannes bukan hanya untuk menjual satu film, melainkan membuka jalan lebih luas bagi perfilman Indonesia agar semakin dikenal dunia.
Ia menilai Indonesia memiliki banyak cerita unik yang berasal dari budaya, ritual, hingga legenda di berbagai daerah. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana memperkenalkan cerita tersebut kepada pasar internasional dengan strategi yang tepat tanpa menghilangkan identitas budaya aslinya.
Sementara itu, “Ritual Gaib: Nyai Randasura” juga dikembangkan menjadi sebuah waralaba horor bertajuk “The Black Ritual Universe”. Konsep ini tidak hanya hadir dalam bentuk film, tetapi juga akan diperluas melalui buku, video podcast, hingga konten dokumenter.
Langkah Intan Kieflie melalui Kraken Entertainment dan Anak Negeri Films menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi film genre Indonesia di pasar global. Dengan meningkatnya minat dunia terhadap horor Asia, karya-karya lokal Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk bersaing di industri internasional.
Dalam presentasinya di Cannes, Intan membawa tiga proyek utama yang menjadi fokus promosi internasional. Ketiga proyek tersebut adalah film horor supranatural “Sukma” karya sutradara sekaligus aktor Baim Wong, film “Ritual Gaib: Nyai Randasura” yang siap dirilis, serta proyek terbaru bertajuk “Ibu: Mother of the Lost”.
Film “Ibu” menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena menggabungkan unsur horor psikologis dan drama emosional keluarga. Film ini akan dikembangkan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris, untuk menjangkau pasar global lebih luas.
Cerita “Ibu” berfokus pada sosok Dewi, seorang ibu yang sedang berduka dan memilih mengasingkan diri ke sebuah rumah tua di tepi danau yang ingin ia ubah menjadi panti asuhan. Namun, situasi berubah menjadi misterius ketika ia menemukan dua anak yang telah meninggal dunia seolah masih tinggal di tempat tersebut dan memanggilnya dengan sebutan “Ibu”.
Selain Christine Hakim dan Yayan Ruhian, film ini juga melibatkan aktor internasional Alexander Wraith serta Intan Kieflie sendiri. Proyek tersebut dibawa ke Cannes untuk mencari kerja sama produksi, investor, mitra strategis, hingga peluang penjualan internasional sebelum proses produksi dimulai.
Menurut Intan Kieflie, tujuan kehadirannya di Cannes bukan hanya untuk menjual satu film, melainkan membuka jalan lebih luas bagi perfilman Indonesia agar semakin dikenal dunia.
Ia menilai Indonesia memiliki banyak cerita unik yang berasal dari budaya, ritual, hingga legenda di berbagai daerah. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana memperkenalkan cerita tersebut kepada pasar internasional dengan strategi yang tepat tanpa menghilangkan identitas budaya aslinya.
Sementara itu, “Ritual Gaib: Nyai Randasura” juga dikembangkan menjadi sebuah waralaba horor bertajuk “The Black Ritual Universe”. Konsep ini tidak hanya hadir dalam bentuk film, tetapi juga akan diperluas melalui buku, video podcast, hingga konten dokumenter.
Langkah Intan Kieflie melalui Kraken Entertainment dan Anak Negeri Films menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi film genre Indonesia di pasar global. Dengan meningkatnya minat dunia terhadap horor Asia, karya-karya lokal Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk bersaing di industri internasional.
Catatan Redaksi:
Artikel ini diterbitkan oleh BeritaDunia. Setiap pembaruan akan ditampilkan melalui halaman artikel ini.