Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Minggu pagi. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, itu dilaporkan mengalami erupsi sebanyak tiga kali dalam rentang waktu pagi hingga menjelang siang. Aktivitas tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan gunung diminta meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi pertama terjadi sekitar pukul 07.06 WIB. Pada letusan pertama, kolom abu terpantau mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke barat daya. Erupsi tersebut juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 4 menit 31 detik.
Tidak lama setelah itu, Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 07.33 WIB. Namun, visual letusan kedua tidak dapat diamati dengan jelas karena tertutup kabut. Meski begitu, aktivitas vulkanik tetap tercatat melalui alat pemantau dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 110 detik. Erupsi ketiga kemudian terjadi pada pukul 10.15 WIB, dengan kondisi visual yang juga tidak teramati karena faktor cuaca.
Aktivitas erupsi beruntun ini menjadi pengingat bahwa Gunung Semeru masih berada dalam kondisi aktif. Warga, pendaki, dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas di area berbahaya, terutama di kawasan yang berpotensi terdampak material vulkanik, awan panas, atau aliran lahar apabila terjadi hujan.
Petugas juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Informasi resmi dari pos pengamatan, PVMBG, BPBD, dan pihak berwenang setempat perlu menjadi acuan utama. Dengan kewaspadaan bersama, risiko akibat aktivitas Gunung Semeru dapat diminimalkan.
Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi pertama terjadi sekitar pukul 07.06 WIB. Pada letusan pertama, kolom abu terpantau mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke barat daya. Erupsi tersebut juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 4 menit 31 detik.
Tidak lama setelah itu, Semeru kembali mengalami erupsi pada pukul 07.33 WIB. Namun, visual letusan kedua tidak dapat diamati dengan jelas karena tertutup kabut. Meski begitu, aktivitas vulkanik tetap tercatat melalui alat pemantau dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 110 detik. Erupsi ketiga kemudian terjadi pada pukul 10.15 WIB, dengan kondisi visual yang juga tidak teramati karena faktor cuaca.
Aktivitas erupsi beruntun ini menjadi pengingat bahwa Gunung Semeru masih berada dalam kondisi aktif. Warga, pendaki, dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas di area berbahaya, terutama di kawasan yang berpotensi terdampak material vulkanik, awan panas, atau aliran lahar apabila terjadi hujan.
Petugas juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Informasi resmi dari pos pengamatan, PVMBG, BPBD, dan pihak berwenang setempat perlu menjadi acuan utama. Dengan kewaspadaan bersama, risiko akibat aktivitas Gunung Semeru dapat diminimalkan.
Catatan Redaksi:
Artikel ini diterbitkan oleh BeritaDunia. Setiap pembaruan akan ditampilkan melalui halaman artikel ini.