Rasa duka dan penyesalan mendalam dirasakan Reza, seorang pemandu pendakian lokal, usai tragedi yang terjadi dalam perjalanan menuju Gunung Dukono, Maluku Utara. Insiden tersebut terjadi ketika aktivitas vulkanik gunung meningkat dan memuntahkan material berbahaya ke area pendakian.
Pada hari kejadian, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri langsung diterjunkan untuk melakukan penyelamatan terhadap para pendaki. Namun kondisi di lapangan tidak mudah karena erupsi Gunung Dukono masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi dan jeda letusan yang sangat singkat.
Reza yang turut berada di lokasi mengaku mengalami luka bakar pada bagian kaki akibat terkena material vulkanik. Meski demikian, ia memilih tetap bertahan demi membantu proses evakuasi korban bersama tim penyelamat lainnya.
Dalam keterangannya, Reza mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral kepada korban maupun keluarga korban atas tragedi yang terjadi. Bahkan, ia mengungkapkan keinginannya untuk menemui keluarga korban secara langsung guna menyampaikan permohonan maaf.
Menurut Reza, rombongan pendaki tersebut sebelumnya memang telah merencanakan perjalanan ke Gunung Dukono sejak pertengahan tahun lalu. Salah satu peserta pendakian menghubunginya untuk membantu mengatur perjalanan wisata pendakian di wilayah Maluku Utara. Selain Dukono, Reza juga sempat merekomendasikan Gunung Gamkonora dan Tabaru sebagai tambahan destinasi.
Popularitas Gunung Dukono sendiri belakangan meningkat setelah banyak video pendakian gunung tersebut viral di media sosial dan menarik perhatian wisatawan, termasuk turis asing. Reza mengaku cukup sering membagikan pengalaman pendakiannya sehingga banyak pendaki dari luar daerah maupun luar negeri mulai menghubunginya.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya pemberitahuan resmi terkait penutupan jalur pendakian Gunung Dukono sejak April lalu. Menurutnya, informasi tersebut tidak ia terima, termasuk dari warga sekitar yang biasa membantu aktivitas pendakian. Selain itu, ia mengaku tidak melihat adanya papan larangan yang dipasang di area pendakian menuju kawah.
Meski status Gunung Dukono berada pada level waspada, Reza mengaku menganggap aktivitas pendakian masih memungkinkan dilakukan, mengingat di beberapa gunung lain di Indonesia aktivitas wisata tetap berjalan dalam kondisi serupa dengan pembatasan tertentu.
Pada hari kejadian, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri langsung diterjunkan untuk melakukan penyelamatan terhadap para pendaki. Namun kondisi di lapangan tidak mudah karena erupsi Gunung Dukono masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi dan jeda letusan yang sangat singkat.
Reza yang turut berada di lokasi mengaku mengalami luka bakar pada bagian kaki akibat terkena material vulkanik. Meski demikian, ia memilih tetap bertahan demi membantu proses evakuasi korban bersama tim penyelamat lainnya.
Dalam keterangannya, Reza mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral kepada korban maupun keluarga korban atas tragedi yang terjadi. Bahkan, ia mengungkapkan keinginannya untuk menemui keluarga korban secara langsung guna menyampaikan permohonan maaf.
Menurut Reza, rombongan pendaki tersebut sebelumnya memang telah merencanakan perjalanan ke Gunung Dukono sejak pertengahan tahun lalu. Salah satu peserta pendakian menghubunginya untuk membantu mengatur perjalanan wisata pendakian di wilayah Maluku Utara. Selain Dukono, Reza juga sempat merekomendasikan Gunung Gamkonora dan Tabaru sebagai tambahan destinasi.
Popularitas Gunung Dukono sendiri belakangan meningkat setelah banyak video pendakian gunung tersebut viral di media sosial dan menarik perhatian wisatawan, termasuk turis asing. Reza mengaku cukup sering membagikan pengalaman pendakiannya sehingga banyak pendaki dari luar daerah maupun luar negeri mulai menghubunginya.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya pemberitahuan resmi terkait penutupan jalur pendakian Gunung Dukono sejak April lalu. Menurutnya, informasi tersebut tidak ia terima, termasuk dari warga sekitar yang biasa membantu aktivitas pendakian. Selain itu, ia mengaku tidak melihat adanya papan larangan yang dipasang di area pendakian menuju kawah.
Meski status Gunung Dukono berada pada level waspada, Reza mengaku menganggap aktivitas pendakian masih memungkinkan dilakukan, mengingat di beberapa gunung lain di Indonesia aktivitas wisata tetap berjalan dalam kondisi serupa dengan pembatasan tertentu.
Catatan Redaksi:
Artikel ini diterbitkan oleh BeritaDunia. Setiap pembaruan akan ditampilkan melalui halaman artikel ini.