TEHERAN / WASHINGTON – Ketegangan di jalur pelayaran paling strategis di dunia, Selat Hormuz, kembali mencapai titik kritis pekan ini. Di tengah kebuntuan negosiasi damai, Iran secara resmi memberlakukan aturan administratif baru bagi seluruh kapal yang melintas, sementara Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militer melalui operasi pengawalan tanker.
1. Iran Terapkan Wajib Izin Transit
Pada Rabu (6/5), Teheran meluncurkan Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA). Melalui badan baru ini, setiap kapal komersial yang hendak melintasi Selat Hormuz kini diwajibkan mendapatkan izin transit resmi melalui email. Langkah ini dianggap sebagai upaya Iran untuk memperkuat kontrol administratifnya atas wilayah tersebut. Ahli parlemen Iran, Manouchehr Mottaki, menegaskan bahwa selat ini adalah "garis merah" dan memperingatkan akan ada tindakan militer langsung jika kapal asing melakukan provokasi.
2. Operasi Militer AS: "Project Freedom"
Merespons penutupan de facto oleh Iran, Presiden Donald Trump mengumumkan peluncuran "Project Freedom". Operasi ini bertujuan untuk:
Memberikan pengawalan militer bagi kapal tanker yang terjebak di Teluk.
Memastikan kebebasan navigasi setelah laporan adanya kapal kargo (termasuk kapal berbendera Korea Selatan) yang menjadi sasaran serangan.
Mendesak sekutu internasional, termasuk Korea Selatan dan China, untuk ikut serta dalam misi pengamanan bersama.
3. Insiden Kontak Senjata
Laporan intelijen dan media internasional mengonfirmasi adanya eskalasi fisik dalam 48 jam terakhir:
Bentrokan Laut: Militer AS (CENTCOM) mengeklaim telah menghancurkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mengancam navigasi.
Serangan Balasan: Iran membantah menyerang kapal sipil namun mengeklaim telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal perang AS yang mencoba menerobos zona terlarang.
Serangan Drone di UEA: Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan drone dan rudal yang menargetkan pusat energi di Fujairah, yang diduga kuat berkaitan dengan ketegangan di selat tersebut.
4. Dampak Ekonomi dan Energi
Situasi ini telah mengguncang pasar energi global:
Harga Minyak: Sempat melonjak di kisaran $111 - $114 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Logistik Global: Diperkirakan sekitar sepertiga perdagangan minyak mentah dunia lewat laut melewati jalur ini. Saat ini, volume kapal yang berani melintas dilaporkan turun drastis hingga hanya 5% dari tingkat normal sebelum konflik.
5. Status Negosiasi
Meski situasi militer sangat panas, pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Iran dilaporkan telah menyerahkan proposal perdamaian 14 poin kepada AS melalui mediator. Namun, negosiasi saat ini menemui jalan buntu karena perbedaan prinsip mengenai durasi gencatan senjata dan kedaulatan navigasi di selat tersebut.
Kondisi Terakhir: Hingga berita ini diturunkan, status siaga satu diberlakukan di sepanjang pesisir Teluk. Perusahaan pelayaran internasional diimbau untuk tetap berada di luar zona konflik sampai ada jaminan keamanan dari otoritas internasional.
Konflik
Selat Hormuz Memanas: Iran Terapkan Aturan Transit Ketat, AS Luncurkan "Project Freedom"
KONFLIK HORMUZ