International News Network
Selasa, 12 Mei 2026
Ekonomi

Kurs Rupiah Turun, Dolar AS Tembus Rp17.405 Saat Penutupan Pasar

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan. Penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketidakpastian global dan konflik geopolitik membuat rupiah ditutup melemah di level Rp17.405 per dolar AS.

Jakarta, 12 Mei 2026 06:00 WIB • Amerika Serikat • 5 views
Kurs Rupiah Turun, Dolar AS Tembus Rp17.405 Saat Penutupan Pasar
Jakarta – Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (11/5/2026). Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global akibat meningkatnya permintaan investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian internasional.

Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah berada di level Rp17.405 per dolar AS. Pelemahan sudah terlihat sejak awal sesi perdagangan ketika mata uang Garuda dibuka di zona negatif dan terus mengalami tekanan hingga akhir transaksi.

Penguatan dolar AS turut tercermin dari pergerakan indeks dolar atau Dollar Index (DXY) yang menunjukkan kenaikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut menandakan meningkatnya minat pasar terhadap dolar AS di tengah situasi ekonomi dan geopolitik yang masih belum stabil.

Sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar keuangan internasional saat ini masih dibayangi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya dikabarkan menolak tanggapan Iran terkait proposal perdamaian yang diajukan Washington. Pemerintah Iran disebut masih mempertahankan sebagian kebijakan nuklirnya meski membuka opsi kompromi dalam beberapa aspek tertentu.

Ketidakpastian tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan yang cukup besar di pasar valuta asing.

Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 memperlihatkan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap berada di zona optimistis.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih bertahan di atas level 100. Peningkatan juga terjadi pada indeks yang mengukur kondisi ekonomi saat ini, menandakan aktivitas ekonomi masyarakat masih cukup terjaga.

Sementara itu, ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan juga tetap berada dalam area positif meskipun mengalami sedikit penurunan dibanding bulan sebelumnya.

Analis menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi perkembangan situasi global, terutama arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah. Jika tekanan eksternal terus meningkat, volatilitas nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.